Sebelas Warna Pelangi di Kandang Kambing

21 Jan

Judul Buku: Laskar Pelangi

Pengarang: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang

Kota Terbit: Yogyakarta

Tahun Terbit: 2006

Tebal Buku: 600 halaman.

Harga: Rp45.000,00

 

Sebuah kisah perjalanan hidup sebelas anak Melayu kurang berada yang beruntung mendapatkan pendidikan walaupun sekolah tempat mereka menuntut ilmu terkadang digunakan kambing tetangga untuk berteduh saat hujan. Keberuntungan itu sendiri hampir sirna karena kekurangan murid, namun dapat terselamatkan berkat seorang anak yang lugu dengan mental sedikit terbelakang mendaftarkan diri di sekolah tersebut. Canda dan tangis mereka alami bersama selayaknya saudara. Banyak pula tantangan menerpa, namun hal itu membuat hidup mereka menjadi lebih bersahaja. Tema klasik tentang kehidupan anak-anak yang terhimpit masalah ekonomi dan perjuangan mereka dalam melawan kebodohan cukup memasyarakat. Namun cara penyajian yang menarik membuat buku ini istimewa. Buku ini ditulis oleh Andrea Hirata, seorang yang sama sekali baru dalam dunia sastra, namun karyanya yang berupa tetralogi langsung meraih National Best Seller. Dalam rentang waktu dua tahun, buku pertama dari tetralogi ini yang berjudul Laskar Pelangi sudah mengalami pencetakan ulang sebanyak tiga belas kali dan masih mungkin akan bertambah. Jenis buku ini tergolong fiksi dan cerita dalam buku ini berasal dari pengalaman pribadi yang dialami sang penulis.

Gaya penulisan buku ini seperti jurnal. Namun dalam setiap bab menunjukkan konsistensi antara bagian yang satu dengan yang lain. Setiap peristiwa digambarkan menurut suasana hati sang penulis. Dalam bercerita, penulis menempatkan dirinya sebagai tokoh utama, yaitu Ikal. Penulis menggambarkan karakter tokoh-tokoh lain secara detail dari fisik hingga sifat-sifat masing-masing karakter. Terkadang, penjelasan mengenai tokoh begitu hiperbola dengan pembandingan yang umum sehingga deskripsi tokoh dapat dibayangkan dengan jelas. Perwatakan tokoh menimbulkan hubungan timbal balik dengan cerita, sehingga perwatakan mendukung cerita dan cerita juga mendukung perwatakan.

Secara keseluruhan, buku ini beralur maju, dan cerita disusun secara kronologis. Tidak ada kejanggalan dalam pembentukan alur. Pengarang bercerita secara berurutan waktu kejadiannya. Walaupun ada bab yang langsung melompati setting waktu hingga beberapa tahun sesudahnya, alurnya tetap maju. Gaya bahasa yang digunakan pengarang sungguh unik. Itulah salah satu keunggulan dan daya tarik dari buku ini. Pengarang bisa mengolaborasikan bahasa lokal, bahasa nasional dan bahasa asing dengan serasi. Kombinasi itu paling banyak terlihat dalam bagian deskripsi, baik deskripsi tempat, tokoh maupun suasana. Pengarang juga banyak menggunakan majas, terutama hiperbola dan metafora dan ungkapan-ungkapan baik lokal, nasional maupun asing. Bahasa dan dialek lokal yang mempengaruhi penulisan adalah dialek Melayu. Sesuai dengan setting tempat yang diambil yaitu Pulau Belitong memang berdekatan lokasinya dengan negeri tetangga yang bebahasa Melayu. Kemudian, setting waktu dalam cerita adalah sekitar tahun 1980-an ketika PN Timah masih berdiri dan negeri ini masih dipimpin oleh Presiden Soeharto. Suasana dalam cerita itu menunjukkan kesenjangan sosial yang amat nyata. Bumi Belitong yang kaya material tambang justru rakyatnya melarat sedangkan pemiliknya adalah investor dari luar daerah. Penduduk asli hanyalah sebagai buruh. Penulis mengibaratkannya sebagai tikus yang mati di lumbung padi.

Sampul halaman buku dengan warna dasar merah menyala memang menarik perhatian. Selain itu terdapat campuran warna-warna yang menggambarkan warna pelangi turut menambah keindahan dan sangat mendukung esensi judul. Nilai plus buku ini terdapat pada tema yang diangkat. Tema buku ini sangat membumi dan sangat mengesankan bahwa ini adalah novel Indonesia asli dengan gaya bahasa dan deskripsi nyata. Sehingga orang dapat melihat Indonesia dari mata anak yang berjuang untuk bisa memiliki cita-cita di tengah keadaan yang memprihatinkan pendidikannya sebagai salah satu pemasalahan negeri ini. Satu-satunya kekurangan adalah terlalu tingginya majas hiperbola yang digunakan sehingga para pembaca mulai ragu apakah karya ini memang pernah terjadi. Namun tokoh asli yang masih hidup tentu dapat menjelaskannya. Buku ini bisa dibaca ketika mengisi waktu luang dan gurauan anak kecil dan dilontarkan tokoh cukup menghibur. Pada bagian belakang buku di sebelah barcode tertulis Novel Indonesia Dewasa sehingga buku ini tidak dapat dibaca oleh semua umur.

3 Responses to “Sebelas Warna Pelangi di Kandang Kambing”

  1. Burl Stant January 29, 2012 at 5:35 pm #

    It’s my first pay a visit to this site, and I am truly astonished to see such a good feature YouTube video posted here.

  2. shop mink pink online February 5, 2012 at 1:54 pm #

    What’s up, I would like to subscribe for this blog to take most up-to-date updates, so where can i do it please help out.

  3. Delores Pim February 5, 2012 at 9:36 pm #

    excellent post, very informative. I wonder why the other specialists of this sector don’t notice this. You should continue your writing. I am confident, you have a huge readers’ base already!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: