Teknik Silvikultur (Pendahuluan)

25 Oct

Kuliah pertama Teknik Silvikultur. Catatan Kuliah. Bp. Suryo Hadiwinoto

Pengertian

Teknik silvikultur adalah penggunaan berbagai metode atau teknik dalam praktek pengelolaan vegetasi pepohonan dan lingkungannya dalam suatu tegakan, memelihara hutan sehingga struktur, komposisi, dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pengelolaan.

Dalam menggunakan teknik silvikultur, rimbawan dapat memilih dan menentukan pilihan apakah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari tegakan yang telah ada, atau untuk menambah karakteristik tegakan untuk menghasilkan produk barang dan jasa yang betul-betul berbeda dengan tegakan semula.

Tujuan pengusahaan akan menjadi dasar pertimbangan yang utama dalam menentukan pilihan teknik silvikultur.

  • Misalnya, tujuan (utama) pengusahaannya adalah untuk menghasilkan bahan baku kayu (baik kayu pertukangan, pulp, plywood, dll.) dengan jenis dan kualitas tertentu. Hal tersebut akan memerlukan banyak perombakan atau bahkan mungkin merombak sama sekali tegakan asal (tegakan alam).
  • Misalnya, tujuan (utama) pengusahaannya adalah sebagai kawasan perlindungan sumber daya alam hayati atau sebagai kawasan perlindungan sistem tata-air. Hal ini akan memerlukan sedikit sekali pengelolaan atau hanya dibiarkan alami.

Implementasi Teknik Silvikultur: membangun dan memelihara tegakan hutan yang paling memenuhi tujuan pengelolaan dari pemilik lahan.

Tujuan Umum Teknik Silvikultur: menghasilkan produk barang berupa kayu dan perhatian pada hasil hutan nonkayu dapat menjadi komoditas.

Teknik silvikultur dalam menghasilkan bahan baku kayu dilakukan untuk memenuhi tuntutan kuantitas dan kualitas dalam waktu tertentu.

Implementasi teknik silvikultur:

  • Mengatur Struktur Tegakan

Tujuan pengelolaan dalam mengatur struktur tegakan yaitu keselarasan dengan lingkungan. Tegakan akan berubah sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Rimbawan akan berperan untuk mengubah sebagian ekosistem baru dan sebagian ekosistem beradaptasi.

Struktur tegakan ditentukan oleh pertimbangan:

  1. Variasi jenis
  2. Variasi kelas umur
  3. Penataan tajuk
  4. Distribusi kelas diameter
  • Mengontrol Komposisi Jenis

Mengatur komposisi jenis yang paling baik harus memenuhi aspek biologi dan ekonomi. Satuan ekonomi silvikultur adalah daur. Komposisi jenis dikontrol dengan pengaturan jenis. Kondisi lingkungan diatur dan dibuat sesuai dengan proses suksesi alamiah. Hal ini diperlukan pengendalian karena proses suksesi alamiah tidak selalu dalam kondisi yang diharapkan. Jenis-jenis yang berharga dapat ditingkatkan keberadaannya melalui penanaman, pengayaan, dan penaburan biji.

  • Pengaturan Kerapatan Tegakan

Faktor kerapatan tegakan akan mempengaruhi pertumbuhan diameter. Kondisi kerapatan tegakan yang tinggi akan mempengaruhi bentuk batang bebas cabang yang tinggi, terjadinya pruning alami, dan pertumbuhan diameter yang lambat. Apabila dikehendaki diameter besar, maka diperlukan kegiatan penjarangan. Kerapatan yang tepat bagi masing-masing jenis berbeda-beda. Kombinasi jenis sebaiknya dipilih jenis yang memiliki perakaran dan kebutuhan cahaya matahari berbeda sehingga akan meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang.

  • Pengendalian Pertumbuhan

Pengendalian pertumbuhan dilakukan untuk mendapatkan tegakan tinggal atau tegakan hasil yang dikehendaki atau sesuai dengan tujuan pengusahaan tegakan tersebut. Apabila diperlukan, biasanya tujuan pengusahaan untuk hasil kayu adalah pertumbuhan dengan diameter besar, dengan kuantitas dan kualitas tertentu.

  • Pengendalian Rotasi

Pengendalian rotasi dilakukan berdasarkan prinsip kelestarian. Setelah penebangan, kemudian dilakukan penanaman. Secara ekonomi diharapkan rotasi atau daur adalah sependek mungkin.

  • Kelestarian Produktivitas Ekosistem

Selain memaksimalkan produksi secara ekonomi, teknik silvikultur juga harus memperhatikan kelestarian produktivitas ekosistem tegakan. Pengendalian kelestarian ekosistem yang dilakukan misalnya pengendalian erosi dan siklus hara.

  • Proteksi Terhadap Hama dan Penyakit

Tegakan yang diharapkan dapat memberikan hasil produksi kayu yang tinggi perlu dilakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit. Pada tingkat tertentu, hama dan penyakit tegakan yang tidak terkendali akan menurunkan produktivitas ekonomi suatu tegakan.

Ukuran atau parameter teknik silvikultur:

  1. Struktur
  2. Komposisi
  3. Pertumbuhan

Tiga Pilar Silvikultur:

  1. Pemuliaan
  2. Manipulasi lingkungan
  3. Perlindungan terhadap hama dan penyakit

Dampak dari problema kehutanan:

  1. Potensi hutan sangat menurun
  2. Produktivitas hutan alam tropis jenis komersil sangat rendah
  3. Biaya eksploitasi sangat mahal

Permudaan buatan: proses peremajaan kembali suatu tegakan yang dilakukan oleh manusia.

Tujuan permudaan buatan:

  • Secara sosial-ekonomis: peningkatkan produktivitas
  • Secara ekologis: menghasilkan oksigen, mengerap karbondioksida, menjadi habitat satwa, terpelihara sumber daya genetiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: