Merapi, Here We Go!

21 Sep

merapi

Rasanya udah lamaaaa banget nggak update blog ini. Ngedapetin feel nge-blog susah banget. Jadi begitu udah dapet mood-nya, mending langsung eksekusi.

Dalam kesempatan ini, aku mau sharing petualanganku dan teman-teman yang gokilnya abis-abisan. Pengalaman yang mau aku share adalah pengalaman naik gunung Merapi. Mungkin buat beberapa orang yang udah terbiasa naik gunung ini sih nggak ada apa-apanya, tapi bagiku (khususnya) banyak apa-apanya. Selain itu, postingan ini juga sekaligus buat menghormati teman-teman yang sudah mengantarkanku bertualang di dunia kapur, eh salah, di gunung, karena tanpa kalian petualanganku nggak bakalan seru.

Nah, ide naik gunung ini udah lama sebetulnya. Tapi setelah KKN baru aku dan kawan-kawan mulai ngeh untuk segera merealisasikan wacana yang tak kunjung riil ini (cieh, bahasanya… ckckck). Dua minggu setelah KKN selesai dan dua minggu setelah masa aktif kuliah dimulai (walaupun kami kebanyakan udah nggak kuliah) kami berencana untuk melaksanakan niat kami untuk mendaki gunung Merapi. Sampai H-2 pun kami masih harus memastikan siapa-siapa aja yang fix ikut soalnya hal itu menentukan banget banyaknya persediaan makanan yang harus dibawa.

Jadi, setelah lobi sana-sini, ngrayu sana-sini, terkumpulah 7 orang yang bakal berangkat, termasuk aku. Mereka yaitu Ami yang jadi guide karena udah khatam naik gunung Merapi berkali-kali, Prisma si ketua genk yang rada kacau, Harun, Mbokdhe Putri, Yunita, Gulang, dan aku, jadi kita ada 3 orang cowok dan 4 orang cewek.

Belum berangkat pun, kita udah banyak salah. Waktu kumpul jam setengah 7 malam di kampus udah agak molor. Acara bagi-bagi logistik ke ransel-ransel dan persiapan barang-barang pun bikin jadi telat berangkat. Ditambah ternyata beberapa orang salah kostum dan nggak bawa perlengkapan yang udah dibagi. Termasuk aku. [This is strictly prohibited! Udah tau kita pendaki pemula harusnya dipersiapkan baik-baik. Hal ini nggak boleh dicontoh ya pemirsa]. Karena udah mepet, maka berangkatlah kita sambil berdoa semoga semuanya lancar.

Rule#1: Mempersiapkan diri baik-baik itu PENTING! Jangan sampai ada barang ketinggalan, terutama PAKAIAN HANGAT dan kelengkapannya seperti jaket tebal, sarung tangan, masker atau syal.

Bertujuh, kita berangkat dengan 4 sepeda motor, 3 pasang berboncengan dan satu orang sendirian. Harun yang jadi penunjuk jalan ternyata sempat lupa arah, jadi kita muter cukup jauh supaya bisa sampai ke jalan yang benar. Di sepanjang jalan, ternyata banyak orang yang bersepeda motor nggendong ransel gunung. Ternyata banyak juga orang yang mau malmingan di gunung selain kita. Dan ternyata selain agak nyasar kita juga ketiban sial lagi. Salah satu ban sepeda motor kita meletus! Nggak cuma bocor ya, MELETUS!

Rule#2: Selain mempersiapkan diri, kita juga perlu mempersiapkan kondisi KENDARAAN yang mau kita pakai terutama untuk bepergian jauh. Kalau bareng-bareng, pilih kendaraan yang KONDISINYA BAGUS buat berkendara jauh dan buat berboncengan.

Yah, kitanya juga agak ngebut pas di jalan lobang-lobang jelas resikonya tinggi. Habis, mau ngejar waktu yang kebuang gegara salah jalan tadi. Tapi untungnya di dekat TKP ban meletus tadi ada bengkel kecil yang masih buka. Di situ, ban tubeless yang udah meletus tadi diganti sama ban biasa dan harapannya nggak terjadi apa-apa lagi sampai di tempat tujuan. Eh, nggak cuma sampai tempat tujuan ding, tapi sampai pulang lagi!

Setelah berbagai kejadian tadi, kita sampai basecamp jam 22.30 dan semuanya langsung ngantri ke kamar mandi. Karena udah larut dan basecamp penuhnya minta ampun, kita memutuskan untuk langsung naik (setelah bayar kontribusi tentunya). Believe me, banyak banget yang mendaki hari itu. Kayaknya mendaki Merapi udah jadi wisata beken tiap malming. Jadi, jam 23.00 kita mulai mendaki.

Udara dingin, angin juga dingin. Plester koyo yang ditempel di hidung biar anget sampai nggak mempan. Tapi bagusnya cuaca cerah. langit berbintang kelihatan tanpa awan mendung. Bulan juga bersinar terang walaupun nggak bundar penuh. Jadi jalanan cukup terang walaupun tanpa senter. Senter cuma dinyalakan kalau pas tempat benar-benar gelap.

Karena masih pemula, di awal-awal pendakian kita masih banyak berhenti untuk beradaptasi. Tapi lama kelamaan aku ngrasa kedinginan kalau kelamaan berhenti, jadi aku milih jalan terus pelan-pelan. Kita naik terus-terus-terus, melewati pos 1 dan pos 2 yang banyak orang tidur dan bangun tenda. Tapi rasanya nanggung kalau nggak naik sampai atas, karena target kita mengejar sunrise di puncak.

Tak terasa, aku dan Ami di barisan paling depan. Di belakang kita ada Harun. Belakangnya lagi rombongan sisanya. Aku jalan pelan-pelan ditemani Ami dan kami dibarengi rombongan lain, sepasang bule. Nah, di suatu tempat salah satu bulenya muntah-muntah. Aku antara bingung dan kedingingan. Kalau nggak terus, aku kedinginan, tapi kalau terus, yaa gimana? Tapi karena udah deket banget ke pos 3 (kedengeran suara-suara orang dan nyala lampu senter di tenda-tenda) aku dan Ami lanjut terus.

Setelah sampai atas, Ami bongkar nesting buat masak air. Sedangkan aku, menghangatkan diri tapi nggak berhasil-berhasil. Badanku gemeteran dan aku nggak bisa berhentiin. Jadi aku gerak-gerak kecil biar badan agak anget (tapi masih aja kedinginan). Nah, pasangan bule tadi ternyata nyusul di belakang kita. Mereka lagi tanya ke salah satu pendaki yang nggak mudeng mereka tanyain. Akhirnya pendaki yang ditanyain tadi tanya ke aku dan Ami, ni bule ngomong apa. Gegara kedinginan, aku jadi lola, jadinya Ami yang ngobrol sama bule-bule itu. Aku ya cuma ikut manut aja.

Jadi intinya itu bulenya kedinginan dan mau nunut istirahat. Mereka ketinggalan rombongan temen-temennya karena sakit. Ami yang udah bikin air panas lalu bikin kopi buat mereka. Tapi karena aku juga ditawarin ya aku jelas mau lah. Jadi, kita segelas bertiga (duh, malu-maluin deh itu, tapi biar badan anget yaa biarlah >.<). Akhirnya Harun berhasil juga nyusul kita. Tapi ternyata dia sendirian, rombongan lain di belakang masih ketinggalan. Dan tenda ada di ransel mereka yang ketinggalan. zzzzz

Rule#3: Tenda harusnya dibawa sama orang yang PALING DEPAN! (Tapi kalau aku suruh bawa berat je..😦 )

Sambil nunggu rombongan yang lain nyusul, Ami dan Harun nyari lokasi datar buat bangun tenda. Sedangkan aku meringkuk kedinginan. Buat alibi biar nggak gabut, aku ngajak ngobrol bule-bule itu. Ternyata mereka mahasiswa Jerman yang lagi liburan ke Jogja. Mereka ketinggalan rombongan yang udah naik duluan. Si cowok kakinya luka habis jatuh dari motor, dan pacarnya kedinginan. Kayaknya sih, cewenya masuk angin, habis jaketnya aja tipis. Ami sampai minjemin jaketnya ke si cewek bule. Yah, walaupun lola dan omonganku rada nggak jelas, paling nggak bisa komunikasi lah.

Tak berapa lama, aku denger si Prisma manggil-manggil Harun. Karena Harun lagi nggak ada (nggak tau kemana dia nyari lokasi buat bangun tenda) aku yang nyaut panggilannya. Akhirnya Prisma dan rombongan sampai di pos 3. Karena gelap dan semua lokasi penuh, kita agak maksa bangun tenda di tempat miring dan agak nutupin jalan sampai ditegur pendaki lain. Jadi tenda yang kita bangun dipepetin ke semak-semak. Ya sudahlah, sementara juga kok.

Begitu tenda udah berdiri, kita nggak sempat istirahat karena udah sunrise. Langsung kita cari spot buat foto-foto. Bulenya? Kita suruh istirahat aja di tenda. Biarlah, mereka lagi sakit. Kita yang sehat langsung pasang tampang narsis. Setelah puas foto-foto, pos 3 mulai ramai aktivitas. Banyak orang mulai bangun dan juga foto-foto. Matahari juga udah mulai tinggi, jadi aku berharap kena cahaya matahari dan gemeteranku bisa berhenti. Pas lagi foto-foto, ada orang yang kenal Yunita dan Ami. Ternyata, mereka adik angkatan. Walah, dunia sempit ya, sampai adik angkatan pun ketemunya di Merapi.

Jam 07.00 semua kecuali Ami berangkat mau muncak. Ami udah 3 kali muncak jadi dia nggak ikut dan milih masakin buat kita di tenda (Ami baiiiiikkkk bingiiiiitttt…). Dalam keadaan kedinginan gitu, Prisma mulai cari masalah deh. Spritus Ami diwadahin botol minum hampir aja diminum sama Prisma. Udah masuk mulut! Habis itu disemburin lagi sama orangnya. Dasar, bisa-bisanya spritus hampir diminum!

Rule#4: FOKUS! Jangan sampai spritus dikira air minum!

Karena gerak, badanku mulai berkurang gemeterannya. Dalam rombongan yang mau muncak, Harun dan Gulang paling depan, trus Prisma, trus aku, belakangku Mbokdhe Putri dan Yunita. Sampai di jalan berpasir yang nanjak, susah banget buat maju. Baru melangkah dikit, merosot lagi. Capek. Dan ngantuk. Mbokdhe Putri dan Yunita juga nggak keliatan-keliatan. Kayaknya mereka balik lagi ke tenda.

Karena capek, aku duduk di pasir. Pasirnya anget, coy. Matahari juga udah mulai tinggi jadi udara mulai anget walaupun angin masih dingin. Aku nyoba berbaring dan pasirnya kerasa anget di punggung. Enak banget! Aku bilang ke Harun, Gulang, dan Prisma kalau mereka mau muncak aku ditinggal aja. Aku nggak usah sampai puncak, soalnya mau tidur. Aku juga pesen ke mereka kalau mereka udah turun dan lewat tempatku, aku dibangunin. Kemungkinan mereka sampai lagi di tempatku tidur sekitar 1 jam, jadi bisa enak aku tidurnya. Sekitar jam 08.00 aku mulai terlelap, nggak peduli sama suara-suara pendaki yang lain di sekelilingku.

Aku bangun tiba-tiba karena menggigil. Angin tiba-tiba jadi kenceng dan dingin. Pas liat jam ternyata udah jam 09.00. Kok nggak ada yang bangunin? Aku celingukan. Jangan-jangan pada jahat ninggalin aku ketiduran. Hiks.

Pas lagi merenungi nasib dan ngumpulin nyawa buat berdiri, aku liat ada orang yang keliatan familiar di belakangku (soalnya aku duduk ngadep arah aku datang, yaitu dari bawah / pos 3). Keliatan kayak Prisma, tapi mukanya item banget, jadi aku sangsi. Beberapa kali aku nengok ke arahnya. Tapi tu orang kok nggak ngenalin aku ya? Dengan pedenya aku melambaikan tangan. Eh, ternyata dibales. Entah itu Prisma beneran atau orang caper, mbuhlah. Tapi biar pasti, aku nungguin orang itu turun.

Makin deket, tu orang ternyata beneran Prisma, tapi tampangnya kusut bukan main. Mukanya gosong dan rambut sama alisnya putih kena pasir. Ngakaklah diriku. Sambil duduk-duduk ngemil dan nungguin yang lain dateng dari puncak, Prisma cerita…

Jadi dia tadi belum sampai puncak udah turun lagi. Soalnya jalan ke puncak dipadetin orang. Banyak banget yang mau ke puncak padahal jalan ke puncak cuma bisa dilewatin satu orang, nggak bisa dua orang bersisian lewat. Habis jalan berpasir yang bikin merosot, ternyata ada jalan berbatu yang hampir sembilan puluh derajat yang harus dipanjat kalau mau sampai puncak. Dan batu-batunya nggak terpasang kenceng. Kalau ada yang nendang atau mancal agak keras, batu-batunya bisa jatuh dan ngenain pendaki di bawahnya! Wow, dalam hati aku agak bersyukur karena aku mungkin nggak bakalan mampu karena masih pemula banget. Tapi ada sedikit kecewa juga sih karena nggak sampai puncak. Diam-diam aku bertekad kalau besok sampai Merapi lagi, pengennya bisa sampai puncak, tapi jelas harus latihan manjat medan ekstrim kayak itu biar bisa sampai atas dan nggak membahayakan orang lain. Dari lapangan pasir pun sampai kedengeran orang teriak-teriak memperingatin orang di bawahnya kalau ada batu jatuh. Pantesan rambut Prisma jadi putih, itu gegera rontokan pasir di panjatan batu.

Rule#5: Pendaki pemula sebaiknya LATIHAN dulu sebelum manjat. Paling nggak latihan jalan jauh atau latihan fisik yang sejenis. (Di kasusku, untungnya aku berenang 3 kali seminggu sebelum manjat).

Lama-kelamaan, nungguin Harun dan Gulang bikin laper. Makanan yang dibawa Prisma nggak mood buat dimakan. Aku juga penasaran sama masakannya Ami dan kedinginan. Jadi aku sama Prisma balik duluan ke bawah. Walaupun khawatir juga karena air minum kita bawa, Harun dan Gulang nggak bawa air. Yah, semoga mereka nggak apa-apa. Karena banyak orang yang manjat mungkin ada beberapa yang berbaik hati ngasih mereka minum.

Aku dan Prisma sempat pengin foto-foto. Tapi hape Prisma mati. Aku liat hapeku juga mati! Hadeeehh… jauh-jauh sampai lapangan pasir Pasar Bubrah nggak bisa foto itu rasanyaaaaa… T_T

Rule#6: Walaupun bawa hape berkamera, kalau lowbatt atau mati itu nggak ada gunanya. Jadi pastikan hape dalam keadaan FULLY CHARGED! Atau setidaknya dalam keadaan hidup dan bisa dipake foto-foto. Atau, (ini penting) bawa POWER BANK dan jangan ditinggal di ransel di tenda!

Sampai di tenda, kedua bule udah ngilang. Kata Ami, mereka udah turun, tapi nggak ketemu rombongan mereka. Padahal di sepanjang jalan ke puncak tadi tiap ketemu rombongan bule selalu kutanyain, apakah mereka dari Jerman? Ada 3 kali aku tanya ke rombongan yang muka-mukanya masih muda. Kalau dipikir-pikir, banyak juga bule di Merapi. Nggak cuma 3 rombongan, masih ada banyak rombongan lain yang muka-mukanya udah tua. Populer juga nih Merapi jadi objek wisata turis asing.

Ami lagi goreng bakwan jagung. Yunita lagi ngelumurin tempe pake tepung. Mbokdhe Putri lagi nutupin mie biar nggak kena pasir. Sehabis istirahat bentar, aku bantuin goreng tempe sementara Yunita dan Mbokdhe Putri istirahat di tenda. Aku cerita kalau aku sempet tidur sejam dan bangun karena angin kenceng dan dingin. Tapi di tenda panas banget. Udah jam 11.00 dan aku ngerasa kepanasan walau tanpa jaket. Perubahan suhunya ekstrim banget.

Tak berapa lama, Gulang dateng, kelaperan. Habis itu Harun dateng, minta makan. Dari kita bertujuh, cuma mereka berdua yang sampai puncak. Tempe belum mateng semua sih, dan karena sebagian piring dipake buat tempat lauk, dan nggak semua bawa piring, kita makan gantian pake piring yang ada. Entah kenapa, aku yang tadinya laper pas jamnya makan malah nggak mood. Alhasil makanannya banyak yang kebuang, kecuali tempe dan bakwan jagung yang disimpen buat bekal.

Hari semakin siang, dan kita harus segera berberes untuk turun. Selesai makan, kita ngelipat tenda dan sleepingbag. Kemas-kemas lah pokoknya. Pendaki lain ternyata juga banyak yang udah mau turun. Jam 13.00 kita mulai turun gunung. Kita lewat jalan yang beda dengan waktu kita naik.

Ternyata turun lebih susah daripada naiknya. Naik jadi berat karena kita melawan gravitasi. Nah, turun juga melawan gravitasi karena menahan beban badan biar nggak tergelincir! Nah loh! Entah udah berapa kali aku tergelincir. Selama turun, tempe dan bakwannya jadi laris, padahal waktu di atas nggak habis. Hahaa…

Awalnya aku di barisan paling depan. Tapi semakin ke bawah, jari kakiku makin pedih. Dan sayangnya aku istirahat kelamaan di pos 1 jadi rada kagok pas mau jalan lagi. Sampai di bawah aku paling akhir. Beberapa ratus meter terakhir aku jalan mundur walaupun jalan menurun ekstrim gegara kakiku pedih semua. Kayaknya jariku kapalen, terutama jempol dan kelingking.

Syukurnya, sampai bawah langsung dipesenin teh anget sama kawan-kawan. TOP banget lah mereka ini, tau banget apa yang lainnya pengen, susah seneng bareng. Dan selama pendakian, para pendaki ramah-ramah. Kalau lewat bilang permisi. Gegara digituin, kita juga ikut kayak gitu. Gampang dapet temen ngobrol.

Rule#7: Bersikaplah RAMAH kepada sesama pendaki. Kita senasib, seperjalanan. Biar kalau ada apa-apa ada yang tahu dan siap nolongin.

Banyak pelajaran yang kudapat selama perjalanan. Bahkan sempat sangsi apa bisa aku sampai atas. Ternyata bisa juga. Tiap melangkah aku dzikir. Bermanfaat juga, naik gunung bisa memperbanyak dzikir. Aku juga sempat mikir, kalau perjalanannya sesusah ini, kok banyak ya yang suka naik gunung? Tapi ternyata setelah badan sembuh dari pegal-pegal, rasanya kepingin naik lagi. Aneh kan? Hahaaa… Kayak yang kudengar dari salah satu rombongan pendaki:

Kita ini aneh. Udah capek-capek mendaki, eh turun lagi. Pas udah turun, di bawah, eh naik lagi. Dasar, kita memang aneh.

Yah, memang aneh. Bahkan belum sembuh dari pegal-pegal, udah mulai pasang target (alias wacana baru) bulan depan mau naik lagi. Targetnya sih, Lawu yang konon justru track-nya lebih mudah daripada Merapi, tapi lebih dingin. Jadikah kita naik? Tunggu aja tanggal mainnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: